Pemasaran & Distribusi

Kami punya jaringan retail tersendiri yang terdiri dari beberapa Toko Gudang Komunitas, Toko Gudang Masyarakat, Toko Gudang Industri dll. Setiap outlet kami menampung produk produk dari rantai nilai hulu kami.

Saluran pemasaran bahan pangan yang ada sangat ditentukan oleh sistem pola produksi yang dibangun dan karakteristik komoditi. Secara umum pembedaan yang mendasar terhadap fungsi tataniaga dipengaruhi oleh jumlah produksi atau suplai pada setiap musim panen.

Kebanyakan petani menjual gabahnya di sawah segera setelah panen (GKP). Harga yang mereka terima adalah harga kesepakatan, meskipun seringkali lebih ditentukan oleh para pedagang desa/penggilingan. Sebenarnya petani dapat menerima harga lebih tinggi seandainya mereka menjual padi mereka dalam bentuk gabah kering simpan (GKS/GKG). Namun hal ini sulit dilakukan karena mereka tidak memiliki lumbung penyimpan yang cukup luas dan lantai jemur untuk mengeringkan gabah. Selain itu, para petani didesak oleh kebutuhan uang tunai untuk keperluan konsumsi, biaya sekolah anak atau untuk melunasi kredit atau pinjaman ke tengkulak/renterner.

Kebanyakan pedagang/penggilingan memiliki hubungan yang pasti dengan pedagang tingkat kecamatan atau pedagang besar Kabupaten. Tak jarang mereka adalah kepanjangan tangan dari para pedagang besar.  Pedagang/penggilingan menyimpan stok dalam bentuk gabah dan menjual dalam bentuk beras. Kondisi ini menyebabkan mereka menghadapi resiko susut gabah yang besar yang berdampak pada tingkat jumlah beras yang diperoleh. Harga beras di penggilingan ditentukan oleh pedagang besar atau pelaku tataniaga berikutnya.

Dengan demikian penggilingan padi dan jagung sama halnya dengan petani juga hanya menjadi pricetaker.  Keberadaan pedagang desa/ penggilingan sangat penting bagi petani, bukan saja sebagai tempat menjual gabah mereka, tetapi juga sebagai pusat informasi harga. Tak jarang mereka juga menyediakan kredit usahatani bagi para petani yang dilunasi setelah panen, atau dikenal dengan sistem ‘yarnen’. Sehingga hubungan yang terjadi bukan semata bersifat ekonomis tetapi juga bersifat kultural. Dalam hal pemasaran, KUD atau kelompok tani belum banyak berperan. Kebanyakan KUD atau kelompok tani yang ada masih berperan dalam teknis budidaya dan penyaluran sarana produksi pertanian.

Sementara pedagang besar tingkat Kabupaten biasanya lebih kuat posisi tawarnya dalam penentuan harga. Biasanya mereka memiliki armada angkutan yang banyak dan gudang penyimpanan sendiri, sehingga mereka bisa “mengatur” suplai di grosir/pengecer. Malah tidak jarang pedagang besar ini juga merangkap sebagai grosir. Karena kuatnya posisi tawar pedagang besar inilah seringkali dikatakan bahwa permintaan beras petani sebenarnya merupakan turunan permintaan beras pedagang besar, bukan konsumen.

Kuatnya peranan pedagang besar ini terlihat dari besarnya marjin tataniaga yang mereka peroleh. Keuntungan pelaku pemasaran gabah/beras terbesar dinikmati oleh pedagang besar, kemudian pengecer.  Keuntungan mereka berkisar antara 3,5 sampai 16,2 persen dari harga jual konsumen, padahal mereka hanya melakukan fungsi penyimpanan dan pertukaran saja. Sementara penanggung resiko terbesar yakni petani (gagal panen) dan penggilingan gabah (susut gabah, perubahan harga, rendemen) menikmati keuntungan yang kecil.

Struktur pembagian margin pemasaran yang tidak merata sesuai dengan resiko usaha tersebut menunjukkan lemahnya posisi tawar petani/penggilingan terhadap pelaku tataniaga selanjutnya. Sekaligus hal ini juga mengindikasikan adanya kecenderungan praktek oligopsoni dalam pemasaran beras. Atau dengan kata lain sistem pemasaran beras yang ada belum efisien. Struktur pasar  yang oligopsonistik juga menyebabkan terjadinya fluktuasi harga yang besar di tingkat petani, dibandingkan di pasar lainnya, apalagi di pasar konsumen. Bisa dibuktikan saat panen raya petani seringkali menerima harga di bawah harga dasar, sementara di pasar konsumen BULOG senantiasa melakukan operasi pasar setiap kali suplai beras di pasar berkurang (misalnya pada saat paceklik).

Panjangnya rantai tataniaga beras juga pada akhirnya merugikan konsumen dan produsen, karena semakin panjang rantai pemasaran akan semakin besar selisih harga yang harus dibay ar konsumen dari harga petani. Terlebih kapasitas stok pedagang besar dan pengecer yang besar membuat mereka mampu mengendalikan suplai beras dan harga pasar, terutama saat paceklik.

Dari uraian diatas terlihat jelas bahwa dalam hal pemasaran gabah pun petani menempati posisi yang paling lemah, karena hanya menjadi penerima harga (price taker). Ini tidak adil karena dari resiko usaha merekalah yang menanggung resiko terbesar.

Seterusnya ....